Konser Pertama Saya

(Maaf ya kalau Bahasa Indonesia saya kurang memenuhi EYD)

Saya belum pernah seumur hidup melihat konser.  Waktu saya melihat grup ini, *N’Sync, akan pentas di Portland, Oregon, saya berkata kepada diri saya sendiri kalau saya ingin pergi menonton.  Alasan saya ialah konser ini sebagai pengganti konser-konser yang saya ingin tonton tetapi tidak dapat, seperti: NKOTB (New Kids On The Block konser di Jakarta sekitar tahun 1994) dan Backstreet Boys (Rose Garden, Portland Oregon Agustus 1998).

Lalu saya menelepon TicketMaster untuk membeli tiket konser.  Pada percobaan pertama saya tidak dapat membeli tiket.  Setelah 2 hari dari percobaan pertama, saya menelepon kembali dan saya berhasil mendapatkan tiket untuk menonton konser.  Saya bahagia sekali sampai saya melupakan sesuatu hal yang penting:  bagaimana cara saya dapat ke sana?

Saya mempunyai waktu satu bulan untuk memepersiapkan strategi saya sebelum hari konser tiba.  Saya mencari-cari di Internet, mencoba untuk mencari jadual waktu transportasi yang sesuai dengan keinginan saya.  Saya mencari di Greyhound (jalur bus kota seperti DAMRI kalau di Indonesia), Tri-Met (jalur bus kota yang berada di Portland, Oregon), dan Anthony’s Limousine (bis penghubung antara Corvallis (kota dimana saya bertempat tinggal) dan Portland International Airport).  Setelah saya pertimbangkan masak-masak, saya menulis jadual berangkat bis yang sesuai dengan keinginan saya.

Pada permulaannya, saya ingin pergi ke Portland untuk melihat rute yang tepat untuk saya.  Maksud saya, saya ingin ke Portland, menggunakan jadual bis yang sama dan rute bis yang sama seperti pada hari konser.  Sayangnya, saya tidak dapat pergi melihat karena saya sibuk sekali sampai pada hari konser dimulai.

Kira-kira 2 hari sebelum hari konser, saya pergi ke depot bis untuk membeli tiket.  Saya gugup sekali.  Bagaiman kalau saya tidak dapat pulang ke rumah setelah menonton konser?  Apa yang akan terjadi pada saya?  Apa yang saya akan lakukan di Portland kalau saya tidak dapat pulang?  Saya menjadi ragu sekali sehingga saya mulai mempertanyakan keputusan-keputusan saya di dalam hati.

Waktu hari konser tiba, saya telah berusaha sedemikian mungkin untuk mempersiapkan diri.  Kelas terakhir saya selesai pada pukul 14:50 dan bis Greyhound dari Corvallis ke Portland saya berangkat pada pukul 15:15.  Selama dua puluh menit saya berjalan secepat mungkin seperti orang yang terburu-buru ke depot bis.  Setibanya saya di depot bis, ternyata saya masih mempunyai waktu lima menit untuk menunggu sebelum bis dari Portland tiba di depot.  Saya merasa lega dan saya mengistirahatkan kaki saya.

Waktu di bis saya menjadi bertambah gugup.  Saya telah mengharapkan agar bis ini tiba di Portland pada pukul 18:15 TEPAT, tetapi bis Greyhound ini baru berangkat pada pukul 15:25 dan bis ini sering kali berhenti di depot.  Semakin banyak bis berhenti, semakin gugup dan takutlah saya.  Semua pertanyaan “Bagaimana kalau” muncul di kepala saya.

Ketakutan saya terjadi.  Bis tiba di depot bis di Portland pada pukul 18:25.  Saya terlambat.  Secepat mungkin saya berlari ke depot bis Tri-Met untuk mengejar bis yang seharusnya membawa saya ke Rose Garden (tempat dimana *N’Sync mengadakan konser mereka).  Hampir saja saya naik bus yang salah kalau pengemudi bis tidak memberitahu saya kalau bis yang ia kemudikan itu tidak ke Rose Garden.  Lalu saya menunggu di depot bis yang benar selama sepuluh menit sampai pada akhirnya saya tidak tahan lagi menunggu dan saya pergi meninggalkan depot bis Tri-Met yang benar itu.

Setelah meninggalkan depot bis, saya berpikiran untuk berjalan saja ke Rose Garden.  Saya berkata kepada diri saya sendir bahwa sya tidak perlu bergantu kepada bis.  Saya dapat melakukannya sendiri.  Saya kuat dan saya juga sebelumnya pernah ke Rose Garden.  Seharusnya saya dengan mudahnya dapat menemukan loksai Rose Garden lagi.

Lalu saya menjadi bingung.  Jalan manakah yang harus saya ambil?  Lalu saya melihat sebuah taksi.  Saya berlari menyeberangi jalan dan saya bertanya kepada pengemudi taksi apakah ia dapat megantarkan saya ke Rose Garden.  Tetapi sayangnya, ia harus mengantarkan beberapa paket barang, jadi ia memutuskan untuk memanggilkan sebuah taksi untuk saya untuk mengantarkan saya ke Rose Garden.

Lalu ada seorang laki-laki yang kelihatannya kurang benar yang bertanya kemana saya ingin pergi.  Melihat penampilannya, saya merasa agak ragu untuk memberitahukan ia tujuan saya, tetapi saya memberitahukan kepadanya bahwa saya akan pergi ke Rose Garden.  Lalu ia masuk ke dalam tokonya dan saya berlari menyeberangi jalan untuk menghindarinya.  Lalu ia keluar dari tokonya dan ia memberitahukan rute lain yang dapat saya ambil untuk pergi ke Rose Garden.

Saya berjalan ke depot bis yang orang itu telah anjurkan.  Saya menunggu di sebuah depot bis Tri-Met, tetapi saya tidak melihat apa-apa.  Lalu ada sebuah bis yang berhenti di depot itu untuk menurunkan para penumpangnya.  Pada waktu itu, saya sudah tidak perduli lagi dimana saya harus “meletakkan muka saya”.  Saya bertanya kepda pengemudi bis apakah bis yang ia kemudikan adalah bis yang benar untuk pergi ke Rose Garden.  Ia menjawab “bukan”, tetapi ia lalu menganjurkan saya untuk mencoba bis yang lain.  Dari apa yang saya telah pelajari di halaman komputer Tri-Met, saya mempelajari bahwa ada bis nomer 4 yang pergi ke Rose Garden.  Lalu saya menyeberangi persimpangan dan saya melihat ada bis nomer yang pada saat itu berhenti di persimpangan yang sama.  Saya berlari menuju ke bis itu dan saya bertanya kepada pengemudinya apabila saya telah menaiki bis yang benar.  Ia membenarkan dan ketika saya hendak membayar, ia menolak karena meter untuk menerima uang rusak.  Jadi saya naik bis itu dengar cuma-cuma.

Saya tiba di Rose Garden pada pukul 18:50.  Setibanya saya di sana, saya melihat ada banyak sekali anak-anak gadis berumur 9-17 tahun, banyak dari mereka pergi bersama orang tuanya.  Mereka menghias diri mereka dengan barang-barang milik *N’Sync, seperti: tato, jel berkilap, dan sebagainya.  Mereka ramai sekali; mereka berteriak-teriak dan berbicara kepada orang tua mereka atau teman-teman mereka keras sekali sehingga saya tidak dapat mendengar diri saya sendiri.

Sebelum memasuki gelanggang, saya memutuskan untuk membeli tandamata.  Untuk membeli tandamata, saya harus mengantri selama sepuluh menit sebelum penjual melayani saya.  Setelah membeli tandamata, saya berusaha mencari tempat dimana saya harus duduk.  Pertama kali saya tiba tiba di lantai yang salah.  Setelah menyadari kesalahan saya, saya mencoba untuk naik lift yang dapat membawa saya ke lantai yang benar.  Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 19:20.  Secepat mungkin saya berusaha untuk naik lift.

Ketika lift tiba, saya naik ke dalamnya dan saya turun di lantai yang benar.  Lalu timbullah masalah yang baru, “dimanakah tempat duduk?”  Saya melihat ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari dimana saya seharusnya duduk.  Acara pembuka pada saat itu telah dimulai.  Saya berlari secepat mungkin dengan membawa tas pungung sekolah yang berat sekali.  Kira-kira pada pukul 19:39 saya akhirnya menemukan baris dimana saya harus duduk.  Lalu saya bertanya kepada pak penjaga pintu dimanakah kursi tempat duduk saya.  Sayangnya, saya telah memasukkan karcis saya ke dompet saya yang penuh dengan tagihan-tagihan.  Sehingga saya harus membongkar dompet saya di dalam kegelapan untuk mencari karcis. 

Itu bukanlah hal yang mudah, apalagi udara di dalam gelanggang panas sekali.  Ditambah lagi dengan acara pembukaan telah dimulai.  Saya panik.  Setelah itu saya berlari ke baris dimana saya harus duduk dan ternyata saya menemukan kalau saya akan duduk di tempat duduk yang salah.  Lalu saya turun dari baris saya ke pintu masuk gelanggang dan bertanya kepada penjaga pintu dimanakah saya harus duduk.  Menurut perkiraan saya, pak penjaga pintu sudah tidak tahan lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan orang-orang.  Lalu ia mengajak saya dan seorang wanita lain menuju ke baris dimana kita harus duduk.

Setelah duduk dengan tenang, saya menghela napas dan saya mencoba untuk menikmati acara pembuka.  Menurut pendapat saya, acara pembuka ini bagus sekali.  Dansanya menarik sekali.

Lalu acara kedua dimulai.  Acara kedua ialah Tatyana Ali menyanyikan lagu-lagu terbarunya.  Dengan kostumenya yang menarik dan gerakan dansa yang indah, saya bertepuk tangan dan menikmati acaranya.

Dengan jarak kira-kira 2 bangku dari saya adalah sekeluarga dengan dua orang anak perempuan.  Anak-anak keluarga itu kelihatanya sangat menikmati acaranya itu tetapi mereka merasa kurang menikmati acara dengan mendengar fans-fans yang lain berteriak keras sekali.   Para orang tuanya tidak kelihatan menikmati konser.  Mereka terlihat terpaksa sekali pergi ke konser itu.  Menurut saya, mereka menganggap anak-anak yang berteriak-teriak itu berteriaknya keras sekali.  Saya setuju dengan pendapat mereka karena saya juga menganggap anak-anak yang berada di gelanggang itu berteriaknya keterlaluan kerasnya. Seperti tidak ada lagi hari esok.

Waktu *N’Sync berada di atas panggung,  anak-anak itu berteriak lebih keras lagi.  Saya mengeluarkan penutup telinga saya karena saya sudah mengantisipasi bahwa kejadian ini akan ada, tetapi ketika saya melihat ibu dari 2 anak perempuan, yang duduk 2 bangku dari saya, mencoba untuk menutup telinga untuk mengurangi kekerasan teriakan para fans.  Lalu saya memberikan penutup telinga saya kepada ibu itu sehingga ia dapat menikmati konser dan tidak menjadi tuli mendengar teriakan para fans.

Pembuka acara N’Sync bagus sekali.  Mereka berpakaian bergaya laboratorium nuklir dengan warna-warna tertentu dan mereka menggunakan tongkat sebagai alat pembantu.  Sayangnya saya kurang dapat menentukan siapakah mereka karena saya duduk di barisan yang paling atas di gelanggang Rose Garden dan penglihatan saya kurang bagus.  Mereka (*N’Sync) berdansa cepat sekali dan terlihat sekali kalau mereka telah berlatih dengan tekun.

Di babak kedua konser *N’Sync, mereka memerankan dekade-dekade.  Pada babak kedua, mereka memerankan dekade 60-an dan mereka menyanyi “that thing you do” (sesuatu yang engkau lakukan) yang diambil dari filem yang berjudul sama dimana Tom Hanks menjadi pemeran utama.  Menurut pendapat saya, JC dan Chris yang menyanyi, Justin memainkan keyboard, dan Joey memainkan drum.  Sayangnya saya lupa apa yang Lance lakukan.  Pada babak ketiga, mereka memerankan dekade 70-an dan mereka menyanyikan lagu dari grup “The Jackson Five.” Saya kurang mengerti judul lagunya, mungkin saja itu “ABC.”  Menurut saya, di dalam lagu ini saya sukar untuk menentukan siapakah mereka, tetapi saya merasa yakin kalau Chrislah penyanyi utamanya.  Mereka memakai kostum yang sepantasnya untuk dekade 70-an ini, lengakp dengan celana lebar dan baju yang bergambar unik.  Di babak keempat, mereka memerankan dekade 80-an.  Mereka menyanyikan lagunya “Kool and The Gang” yang berjudul “Celebration (perayaan).”  Mereka mengenakan kostum 80-an yang sepantasnya, dengan pernik-pernik yang berlebihan.  Di babak kelima mereka memerankan dekade 90-an.  Mereka menyanyikan salah satu lagu dari album mereka, “Here we go (Di sini kita mulai)” dan di sini mereka mengenakan pakaian zaman 90-an, yang menurut saya pantas untuk mereka.

Bagian yang saya paling suka adalah bagian dimana mereka menyanyikan lagu Christopher Cross yang berjudul “Sailing (Berlayar).”   Mereka benar-benar berlayar!  Di punggung mereka telah dipasang kabel untuk membantu mereka melayang di udara.  Dipimpin oleh JC, mereka berlayar di udara dan mereka menuju ke arah kerumunan penggemar.  Pada saat itu, hati saya meluluh.  Mereka bagus sekali!

*N’Sync juga menyanyikan lagu hits mereka yang terakhir “I drive myself crazy (Saya membuat diri saya sendiri menjadi gila).”  Mereka mengajak beberapa penggemar untuk naik ke atas panggung dan menyanyi bersama mereka.  Oh, saya hanya dapat berharap kalau saya adalah salah satu dari penggemar-penggemar yang beruntung itu.  Mereka dapat duduk bersebelahan dengan idola mereka.

Pasangan suami istri yang saya telah diskusikan 2 paragraf yang lalu sangatlah tidak bahagia.  Sebelum acara dimulai, manajer stadiun telah mengumumkan bahwa sebaiknya para penonton menonton dan menikmati konser dengan DUDUK.  Tetapi ketika acara telah dimulai, beberapa orang penggemar mulai berdiri dan menghalang-halangi pemandangan suami istri tersebut.  Sang suami lalu dengan sopan menganjurkan para penggemar tersebut untuk duduk kembali, tetapi para penggemar tidak menghiraukannya.

Waktu ‘N*Sync menyanyikan lagu hits mereka yang sebelumnya “God must have spent (a little more time on you) [Tuhan pasti menghabiskan (waktu lebih banyak padamu)] ”,  teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan itu terdengar lebih kencang lagi, apalagi waktu Justin menyanyi solo di akhir lagu, teriakan dan jeritan itu terdengar seperti suara pesawat jet 747 yang sedang mendarat dekat telinga anda.  Melihat reaksi penggemar, Justin berhenti sebentar-sebentar dan memperpanjang akhir dari lagu tersebut untuk mendengar teriakan dan jeritan penonton.

Bagian dansa “Tearing up my heart (Mencabik-cabik hatiku)” terlihat bagus sekali.  Saya mendapat ide-ide waktu saya melihat bagaimana mereka berdansa.  Bagus sekali!

Ketika saya dapat melihat menengok ke jam tangan saya, saya menemui kalau waktu telah menunjukkan pukul 21:40. Saya mulai bertanya kepada diri saya sendiri.  Apakah saya harus pergi meninggalkan stadiun sekarang dan melewatkan acara konser?  Atau haruskah saya tinggal di sana sampai acara usai dan mengorbankan kendaraan pulang saya?  Saya memilih pilihan yang kedua dan saya tinggal di sana sampai acara konser benar-benar usai pada pukul 22:10.

Pada pukul 22:15, saya membeli tiket untuk naik MAX (jalur kereta api yang menghubungkan seluruh kota dengan horizontal).  Saya merasa seperti orang bodoh karena saya tidak pernah membeli tiket MAX sebelumnya.  Saya melihat dan melihat peta dengan seksama terus-menerus, mencoba memutuskan apa yang harus saya lakukan.  Kira-kira pada pukul 22:22  saya selesai dengan urusan tiket itu.    

Lalu saya menaiki kereta api.  Menurut peta yang tadi telah saya amati, saya harus turun di pemberhentian keempat (Hollywood/NE 42nd).  Saya tidak dapat mendengar pengumuman yang disampaikan oleh kondektur karena situasi di kereta terlalu ribut.  Sehingga saya harus bertanya kepada seorang penumpang yang kebetulan berdiri dekat saya.  Ternyata penumpang itu, seorang ibu dengan anak wanitanya yang kira-kira berusia 8 atau 9 tahun, juga baru saja kembali dari menonton konser.  Ibu itu menyukai Joey sementara anak wanitanya menyukai Lance.  Ibu itu lalu berkata kepada anaknya kalau banyak penggemar yang lebih dewasa yang menyukai Joey dibandingkan dengan anggota *N’Sync yang lain.  Ibu itu juga membawa sebuah tanda yang menyoraki Joey.  Si anak wanita lalu berkata kepada ibunya kalau ia terlalu tua kerna pada waktu *N’Sync sedang menyanyikan lagu dari Jackson Five, ia dapat mengikuti bait katanya.  Saya hanya tersenyum saja melihat mereka.  Ketika pemberhentian saya tiba, saya turun dan tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Untuk tiba di tujuan akhir saya (Corvallis), saya harus naik bis yang menuju ke pangkalan udara.   Waktu bis Tri-Met tersebut terlambat datang, saya ketakutan sekali. Ketakutan kalau saya tidak dapat pulang ke rumah pada waktu yang telah dijanjikan.

Ketika bis tersebut tiba di pangkalan udara, pengemudi bis lalu berkata bahwa disanalah pemberhentian saya.  Saya turun dari bis dan berlari ke tempat parkir shuttle.  Ketika saya melihat bis Anthony Limousine-nya akan berangkat, saya berteriak agar bis tersebut berhenti.  Saya perkirakan, ada dua orang supir bis, yang turut membantu saya memberhentikan bis Anthony’s tersebut.  Ketika saya naik bis tersebut, supir bisnya berkata bahwa ia masih harus menunggu dua penumpang lagi.  Jadi ia tak akan kemana-mana.

Beberapa menit kemudian, pak supir meminta karcis bus saya, saya berikan, dan lalu saya duduk di kursi ujung bis.  Di sana saya duduk dan tidur sepanjang perjalanan pulang ke Corvallis.  Sebelum saya dapat tidur di kasur saya yang nyaman, saya harus berjalan 30 menit dari halte bus Anthony’s Limousine.

Tetapi sebelum saya dapat tidur dengan nyenyak di kamr tidur saya, teman sekamar saya, yang ternyata ada perbedaan pendapat dengan saya, mengunci pintu rumah dengan kunci besi yang mati.  Agar saya dapat masuk ke rumah, saya dengan berat hati membangunkannya.  Setibanya di kamar saya langsung meletakkan barang-barang saya dan saya langsung tidur.

Sebagai rangkuman, menurut saya konser ini bagus sekali.  Walaupun Lance, yang saya sukai, tidak menyediakan banyak waktu di panggung sisi kanan; JC-lah yang berada di sana dan “melambaikan tangan-nya” kepada saya.  Baiklah, mungkin saya berpikiran yang tidak-tidak, tetapi ia melambaikan tangannya kepada saya dan mata kami bertemu. ( Dan beberapa ratus anak gadis yang duduk di bagian yang sama dengan saya.  Tetapi itu tidaklah menjadi masalah.)  Tetapi ada di satu bagian dimana saya dapat mendengar suara bass Lance yang merdu.  Sayangnya saya tidak ingat apa judul lagu yang dinyanyikannya. 

Andai saja saya memiliki uang yang banyak, saya ingin pergi ke lebih banyak konser.  Tetapi untuk sementara saya ingin menikmati kenangan ini. Kenangan konser pertama saya.